Tahun ajaran 1974/1975 pada Konservatori Karawitan (KOKAR) Indonesia di Surakarta dimulai pada bulan Januari 1974. Mata pelajaran yang diambil yaitu teori dan praktik. Mata pelajaran teori meliputi Pancasila, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Sejarah Kebudayaan dan sebagainya. Mata pelajaran praktik ada dua kategori yaitu 1) Praktik Karawitan Bersama(PKB) meliputi PKB Sala, Wayang, Tari, Jogya, Sunda dan Bali;  2) Praktik Individu Instrumen Pokok (PIIP) terbagi dalam klas PIIP rebab(R), kendang(K), dan gender(G).

Hal yang baru menurut saya yaitu ketika siswa jurusan karawitan mau belajar mata pelajaran praktik, mereka diwajibkan mengikuti ketentuan sebagai berikut.  Selama belajar mata pelajaran praktik terutama klas PIIP RKG, para  siswa diwajibkan untuk membawa srenten untuk klas PIIP rebab,dan tabuh gender untuk klas PIIP gender.  Selama mengikuti klas PIIP RKG setiap siswa diwajibkan belajar setiap instrumen pokok selama tiga kali seminggu, yaitu dengan bergantian klas artinya setelah masuk klas rebab, hari beri berikutnya masuk klas kendang, dan hari berikutnya masuk klas gender. Hal yang sama juga dilakukan ketika para siswa belajar klas PKB secara bergantian selama seminggu, yaitu dengan bergantian klas artinya setelah masuk klas PKB Sala, hari berikutnya masuk klas PKB Jogya, PKB Wayang dan seterusnya.

Kegiatan mata pelajaran praktik dilakukan setiap hari pada jam kerja dimulai pada pukul o7.00 s/d pukul 13.00. Terutama bagi siswa yang kurang mampu dalam hal pelajaran praktik, supaya mereka dapat mengikuti pelajaran praktik dengan lancar, diharapkan untuk latihan secara mandiri untuk klas RKG dan secara kelompok untuk klas PKB yang dibimbing guru klas. Proses ini berlangsung mulai klas I sampai dengan klas IV, saat itu ada pergantian kurikulum untuk KOKAR diganti namanya dengan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia(SMKI) dengan  waktu belajar selama 4 tahun.

Saat itu kegiatanatau peningkatan yang diaakan pada sore hari berjalan dengan lancar, mengingat jumlah klas untuk jurusan karawitan hanya satu klas dengan jumlah siswa sejumlah 25 orang. Kegiatan ini juga dipantau oleh guru klas mata pelajaran praktik, yang berdampak bagi siswa yang mempunyai ketrampilan menabuh dengan baik, akan dilibatkan untuk membantu  Ujian Praktik Pergelaran yang diadakan rutin setiap akhir tahun. Demikian juga untuk melayani pesanan masyarakat istilahlah peye/PY para guru sering mengajak siswa yang mempunyai kemampuan menabuh dengan baik untuk diajak pentas tersebut. Ketika itu saya masih duduk klas dua smester genap masih teringat ingatan saya, diiajak pentas pertama kali oleh almarhum Bapak FX Subanto pentas klenengan dan tari untuk melayani seseorang yang punya hajat pernikahan anaknya yang diadakan di Gedung Wisudatama Surakarta (letaknya timur Pura Mangkunegaran). Peristiwa ini selalu menjadi memori maupun kenangan bagi saya karena baru pertama kali diajak pentas bapak Guru sekolah dengan imbalan cukup lumayan saat itu sebanyak RP 2.500,-. Kegiatan pentas lainnya selain dalam kota, saya juga diajak bapak guru pentas ke beberapa kota antara lain Blora, Rembang, Ngawi, Madiun, Semarang, Bandung, dan Jakarta.

Setelah lulus Sekolah Menengah Ekonomi Pertama(SMEP) Negeri Juwiring pada tahun 1973 saya belum punya tujuan yang pasti mau melanjutkan sekolah kemana. Mengingat keadaan ekonomi orang tua pada waktu itu juga belum mapan. Ayahnda tercinta Pak Atmo Sukarto(Siran)  yaitu hanya seorang petani, yang saat itu beliau juga bekerja sebagai karyawan  pada Pabrik Karung Goni Delanggu. Ia tidak pernah memberi arahan kemana anaknya harus melanjutkan sekolah. Ungkapan yang selalu kuingat dari beliau yaitu “kowe arep sekolah ngendi wae kena, ngko bapak kari ngragati”, akhirnya paman saya yaitu Sukadi memberi jalan keluar bahwa sebaiknya saya meneruskan sekolah di Solo. Hal ini dengan pertimbangan bahwa   sejak kecil sudah terbiasa bermain gamelan. Selain itu juga saya selalu diajak pentas dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan klenengan pada grup karawitan di kampung Polodadi dimana saya dilahirkan. Menurut pikiran paman bahwa saya lebih cocok melanjutkan sekolah di kongser, yang dimaksud yaitu Konsevatori Karawitan Indonesia(KOKAR) di Surakarta.

Ketika itu bulan Januari tahun 1974 saya diantar paman saya pergi ke  kota Solo dengan naik kereta api dari stasiun Delanggu menuju Solo Balapan. Dari stasiun menuju ke Kepatihan dimana Sekolah KOKAR itu berada saya dengan paman cukup naik kapal, artinya jalan kaki disepanjang jalan aspal, sambil menghafalkan route yang dilewati antara lain: dari Stasiun ketimur- Simpang Lima Margorejo -monumen Banjarsari- Kestalan- Kepatihan. Ini waktu yang menyenangkan bagi saya pergi kekota Solo untuk didaftarkan masuk sekolah pada KOKAR Indonesia di Surakarta. Maklum, karena pada waktu di SMEP menggunakan seragam sekolah yaitu baju dan celana pendek, ini baru pertama kali saya  mengenakan celana panjang. Rasanya senang sekali pergi ke kota Solo untuk mendaftar sekolah memakai baju dan celana panjang yang masih baru. Memang sejak kecil saya jarang sekali memakai celana panjang, mengingat keadaan ekonomi keluarga saya , tidak memungkinkan ketika masih sekolah menengah pertama saya memakai celana panjang. Bila dibanding dengan anak-anak sekarang sangat jauh sekali perbedaannya, anak-anak sekarang semua keperluan hidupya serba tercukupi, yaitu mulai dari makan, pakaian, kesehatan, dan sekolah sangat berbeda sekali dengan jaman dulu.

Akhirnya, setelah didaftar dan diadakan penyaringan lewat tes teori, praktek, dan tes kesehatan, saya dinyatakan diterima sebagai siswa klas I Jurusan KarawitanKOKAR Indonesia di Surakarta Tahun 1974. Saat itu siswa klas I Jurusan Karawitann, Pedalangan, dan Tari hanya menerima satu klas saja. Biasaya yang banyak jumlah siswanya yaitu Jurusan Tari, sedangkan jumlah siswa jurusan karawitan sekitar 25 orang berasal dari beberapa daerah antara lain: Suroto(Sragen), Sugimin (Masaran),Sudalsri (Sukoharjo), Slamet Riyadi (Wonogiri), Joko Purwanto (Karanganyar), Suroto(Klaten), Rusdiyantoro(Brebes), Sigit Astono (Nusukan Solo), Prasadiyanto (Kandangsapi Jebres), Sukadi (Wates), Wiyoto (Sragen) dan masih banyak lagi saya lupa namanya. Selama belajar pada sekolah ini saya kos di Margorejo (letaknya sebelah timur Palang kereta api Soli Balapan) yaitu di rumah Bulik Wiji selama   empat tahun samapai saya tamat pada tahun 1977.

Semester demi semester kuliah saya lalui, tahun demi tahun kuliah saya lampaui, akhirnya saya harus menempuh KKN. KKN yang harus saya jalani mendapat daerah di Banyumas, lokasi obyek kerja nyata kami di SMKI Banyumas.

Hari demi hari KKN saya jalani, dan suatu ketika mataku terbentur dan tertuju pada seorang gadis remaja siswi di SMKI tempat saya menjalani KKN. Dari pandangan pertama akhirnya saya memberanikan untuk mengenalkan diri….”kenalkan dhe namaku Supardi, panggil saja mas Pardi…”, ganti dia juga membalas perkenalan saya, “…..nama saya Endah mas….”

Sejak  Tahun 1968 yaitu ketika saya duduk di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Mrisen Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten saya mengenal perangkat Gamelan Jawa di Kampung Polodadi, dimana saya bertempat tinggal. Ketika itu sekitar 10 anak seusia saya melihat ada gamelan berlaras slendro pelog yang teruat dari besi yang berada di pendapa Kakek saya bernama Kromodiharjo. Tanpa ada rasa takut maupun tidak ada yang melarang saya beserta teman-mulai mencoba memukul gamelan itu dengan sesukanya. Mereka mencoba memukul instrumen yang berbentuk bilah yaitu Slentem Demung Saron Barung dan Saron Penerus. Ada pula teman yang lain mencoba bermain instrumen yang berbentuk pencon yaitu Bonang, ketuk kempyang, kenong, kempul dan Gong.
Saat itu belum tahu bagaimana cara memainkan instrumen tersebut, maka mereka bermain sesukanya, tanpa ada yang mengajarinya, karena sifatnya  masih anak-anak lagu atau gending atau  yang dimainkan biasanya hanya menirukan apa yang mereka dengar ketika bapak -bapak sedang latihan gamelan. Bentuk gending yang dimainkan masih sederhana dan hanya itu2 saja, misalnya, gangsaran  dan bentuk lancaran. Saat itu Pendapa kakek say terbuka untuk warga sekitarnya yang ingin bermain gamelan. Hampir setiap sore anak-anak itu bisa  bermain gamelan, tanpa ada yang melatihnya.

Setelah saya lulus Sekolah Dasar Negeri Mrisen Tahun 1970, saya secara kontinyu dilatih paman saya yaitu Pak Sukadi bermain instrumen Bonang barung, yang kebetula juga sebagai pelatih grup Karawitan kampung Polodadi Mrisen. Beliau alumni Konservatori Karawitan Indonesia di Surakarta Jurusan Karawitan. Dengan sabar dan telitinya saya diberi teknik tabuhan  instrumen bonang barung seperti cegatan gembyang untuk bentuk lancaran irama lancar, srepegan , sampak dan sebagainya. Selain itu juga dipelajari teknik tabuhan  mipil lamba dan rangkep, imbal dan sekaran. Gending Klenengan yang dipelajari mulai dari bentuk ketawang, misalnya Puspowarno sl. manyura, Puspanjala, pl nem, Subakastawa, sl. sang, Langengita Sri Nalendra, pl .barang, Kinanthi Sandung, sl. nem dansebagainya. Bentuk  ladrang misalnya, Wilujeng pl. barang, Mugirahayu, sl manyura, Moncer sl. manyura, Asmaradana sl. manyura, dan sebagainya. Bentuk  merong gd k 2 k minggah 4, misalnya Gambirsawit, sl sanga, Kututmanggung, sl manyura, Randukintir pl.nem, Lobong sl. manyura, Tejosari pl, lima, Widasari, sl manyura,  dan Logondang pl. lima, dan sebagainya.  Grup gamelan ini secara rutin latihan setiap sabtu malam jam 20.00 sampai tengah malam. Selama tiga tahunyaitu 1971-1973 saya bergabung dengan grup karawitan kampung Polodadi Desa Mrisen, Adapun materi gending yang dipelajari sudah diarahkan untuk pentas klenengan atau untuk keperluan karawitan pakeliran semalam suntuk atau untuk  pentas ketoprak atau frahmen tari dan wayang orang. Peristiwa bersejarah seperti peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia atau Kampanye untuk Pemilu, Bersih desa, Suran atau peringatan yang lain selalu diperingati dengan pentas kesenian tersebut.

Hello world!

1 comment

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta